Gaji habis buat bayar pembantu
September 12, 2008
Hari sudah mulai terang ketika istri teman adik saya …(halaah…) menelpon ke rumah. Dengan nada suara nyaris putus asa, si ibu muda__kita panggil saja Novi meminta bantuan saya untuk mencarikan pembantu atau asistan rumah tangga untuk menjaga anaknya yang waktu itu baru berusia 2,5 tahun. Sang mama hendak kembali bekerja setelah cuti panjang selama 2.5 tahun merawat dan mengurus sendiri gadis kecilnya. Kali ini Novi mendapat peluang kerja yang cukup menjanjikan di salah satu bank swasta di pusat kota Jakarta.
“Kalo bisa, minggu depan udah bisa ketemu orangnya ya mbak,?” pinta Novi memelas sambil sedikit memaksa. Kasihan Novi. Sempat terpikir untuk mengontak pembantu yang dulu ikut keluarga kami dan membantu mengasuh Keo dan Puya. Belakangan saya mendapat informasi kalau si mbak yang mau saya ajukan ke Novi sudah bekerja kembali di keluarga lain di Tajur,Bogor.Dengan sedikit menyesal,saya sampaikan ke Novi kalau saya tidak bisa memenuhi permintaannya. Saya berharap Novi juga sudah berusaha menghubungi ke sana ke mari untuk mendapatkan asistan rumah tangga.Paling tidak, Novi bisa mendapat referensi dari pihak lain.
Tak terasa sudah beberapa bulan tidak ada kabar dari Novi. Terakhir saya dengar dari adik saya, Novi berhasil mendapatkan pengasuh untuk anaknya. Syukurlah. Tapi beberapa waktu kemudian, ketika Novi sekeluarga main ke rumah, meluncurlah uneg-uneg Novi. Rupanya asistan yang diharapkan bisa menjaga , merawat dan mengasuh si kecil justru malah menyebabkan anak semata wayang Novi dirawat di rumah sakit. Lho..kok..?
Jadi ceritanya, bila Novi dan suaminya bekerja, sang asisten seringkali membelikan jajanan ringan sarat MSG dan garam macam chiki-chikian belum lagi permen dan cemilan “gak bermanfaat” buat si kecil. Ketika Novi dan suaminya baru pulang dari kantor, mendapati si kecil menangis menggerung-gerung karena tidak enak badan dan diare, dilarikanlah si kecil ke dokter. Diagnosis dokter, infeksi pencernaan karena salah makan?
Makan apa? Kemungkinan besar makan jajanan yang biasa dikonsumsi sang anak manakala orangtua sibuk mencari nafkah. Bisa jadi jajan yang tidak terkontrol dan kebersihan yang kurang dijaga. Anak dirawat di rumah sakit, orangtuapun terpaksa bergantian ijin dari kantor untuk menjaga si kecil.
Setelah ditelusuri,rupanya bila si anak rewel sedikit saja, si pembantu gak mau repot-repot. Bujukan paling mantap adalah memberi snack ringan dan sogokan permen. Waduuh..tidak sehat dan tidak mendidik.
Dengan suara tersendat Novi menuturkan, ” Jadi, mbak..aku susah-susah kerja , gajiku habis buat bayar pembantu buat menjaga dan mengasuh anakku biar anakku terurus, kok malah anakku jadi sakit-sakitan.”
Saya mengerti. Novi ingin bekerja semata-semata untuk ikut menambah penghasilan keluarga dengan konsekwensi harus menggaji orang untuk menjaga anaknya. Sayangnya kadang kenyataan tidak sesuai dengan harapan walau kondisi ini bukan tidak bisa diperbaiki. Ini jadi pelajaran buat saya. Terutama yang penting bagaimana mendidik si asisten dalam merawat rumah maupun mengasuh anak dan bagaimana kedekatan kita dengan anak. Pengasuhan anak memang tidak bisa diserahkan seluruhnya ke orang selain orangtuanya. Kontrol, komunikasi dan peraturan harus konsisten.Dilema, memang tapi harus dilewati. Capek sih tapi persediaan sabarnya harus segudang.
Sekarang anak Novi sudah TK. Mudah-mudahan Novi sudah mendapatkan pengasuh anak yang baik dan bertanggung jawab bukan semata-mata memanjakan.
Entry Filed under: Keluarga. Tag: Anak, Gaji, Gizi, Ibu bekerja, Jajan, Karir, Keluarga, Pembantu, Repot.

Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed