Pakaian (bekas) layak pakai atau sisa export ?

Di suatu iklan baris di harian Kompas : “Punya Pakaian Tidak DiPakai/Bekas (Layak Pakai) Daripada Disimpan.Hubungi : XXX ( 021-835XXXX – 08131904XXXX ).

Tertarik dengan iklan tersebut dan kebetulan saya punya baju-baju layak pakai yang masih bagus,maka saya menghubungi no telpon yang bersangkutan dan diterima oleh seorang wanita. Saya katakan saya tertarik dengan penawaran tersebut dan bertanya pakaian jenis apa saja yang bisa diterima wanita tersebut. Ia menerangkan bahwa ia menerima sejumlah pakaian bekas layak atau nganggur di lemari seperti daster, baju bayi, anak-anak, kaos, kemeja, celana panjang,sprei, korden. Ketika saya jelaskan posisi saya , ia keberatan karena jarak yang jauh. Ia sendiri di Bukit Duri sementara saya nun jauh di pegunungan kawasan Gadog, Mega Mendung,Bogor.Ketika saya tawarkan beberapa kebaya, setelan jas dan safari dan baju muslim, ia menolak. That’s okay. Saya katakan saya akan mampir ke tempatnya bila sewaktu-waktu saya ada urusan di Jakarta.

Sekitar 2 minggu kemudian, ketika ikut menemani suami ke calon kliennya di kawasan Tebet-Casablanca, saya siapkan pakaian-pakaian bekas layak pakai (well, this could be real garage sale!) bahkan baju-baju sisa dagangan di bazaar dulu. Ketika konfirmasi untuk ketemu ibu XXX di rumahnya, dia malah bersedia menerima setelan baju muslim dan menolak baju anak-anak ( nah, kebalik kan dengan ucapannya beberapa minggu lalu) tapi saya keburu meluncur turun dan tidak bisa kembali ke rumah, membongkar lemari.

Setelah urusan suami selesai, kami pun mulai mencari alamatnya. Ibu itu mungkin bukan penunjuk jalan yang baik__saya lebih berpatokan pada peta Jakarta Gunther W.Holtorf__jadinya kami mencari berdasarkan peta dan tebak-tebakan.

Akhirnya kami menemukan lokasinya. Kawasan padat, agak kumuh, gak jauh dari rel kereta api Manggarai. Setelah sedikit berbasa-basi, ibu XXX memanggil seorang pria__suaminya__bapak XXX. Tipikal pedagang di pasar-pasar dan tanpa basa-basi, langsung membongkar bawaan saya, meneliti kondisi pakaian dengan cepat layaknya profesional. “Cuma segini aja, bu?” tanya bapak XXX. “Ya. Lagi pula tidak semua ini barang bekas, sebagian besar malah sisa bazaar jadi baju masih baru sama sekali,” jawab saya.

“Kita gak terima baju baru, kita terima borongan aja. Ibu minta berapa,?”

“Rp 150,00″

“Rp 60,000. Kasian bu, orang yang mau ambil barang saya, jauh-jauh datang dari Lampung.”

“Tapi ini baru,”

“Nih, lihat bu, kita terima berkarung-karung. Lihat, karung ini isinya baju baru semua yang sudah tidak laku lagi di toko. Sisa export dari pabrik. Kalau saya jual sepotong Rp 5,000 aja, orang udah protes.,”

Dan sederet komentar lain yang menunjukkan betapa orang yang mengedrop barang-barang cuci gudang itu memiliki barang yang jauh lebih bagus dan baru ( la iya lah, sisa export gak lolos Quality Control gitu..)

” Rp 100,000,” saya turun harga. Si bapak XXX yang tidak simpatik tak bergeming.

“Rp 75,000 deh, ambil.Jauh-jauh dari Bogor saya antar,” saya mulai protes.

“Ah, kami juga kemarin ambil sendiri di Taman Jasmin, sombong bapak XXX. ” Kalo gitu, kenapa gak diambil aja kerumah,” saya menatap ibu XXX, ” ibu sendiri bilang kan kalau ibu kesulitan kendaraan untuk pick up barang, “

Cepat-cepat, bapak XXX mengangsurkan Rp 60,000 dan close the deal. Kurang ajar..

Intinya bapak XXX menurut saya sok dan menyebalkan.

Tiba-tiba sang istri, ibu XXX menyela, ” Bu, mana baju muslimnya?” “Gak dibawa, ntar saya kesini lagi,” jawab saya.Saya menangkap isyarat ibu XXX sangat menginginkan setelan baju muslim apalagi ini mau Lebaran.

“Dijual berapa, bu?” tanyanya lagi.

“Yang jelas, bukan borongan. Ini setelan baju muslim yang kami rancang dan kami jahit sendiri bukan beli di mall.Setelannya 3 pces. Saya jual Rp 100,000 karena rata-rata baru dipakai sekali. ( Jual baju muslim ke pengepul kaya gini ? Nggaaak…banget !!!)

“Kita gak ambil, bu” jawab bapak XXX cepat-cepat ( baguslah..)

Saya pergi dengan hati agak dongkol. Saya merasa tertipu.Kalau niatnya cari pakaian sisa export, bilang saja di awal iklan. Pake embel-embel baju bekas layak pakai. Lebih baik baju saya sumbangkan ke orang yang membutuhkan bukan orang yang mencoba mengambil keuntungan.

Di perjalanan pulang, suami menghibur,” sudahlah, Sa, kamu memang gak bakat jadi pedagang.Orang-orang tipe bapak XXX itu pedagang asli yang mengutamakan kecepatan waktu dan keuntungan banyak dengan modal sesedikit mungkin,”

“Penampilan dan gayamu itu bukan penampilan pedagang yang pandai merayu, membujuk, merengek bahkan bisa memasang tampang memelas,” tambah suami saya lagi.

Pantas saja kalo untuk urusan dagang saya memang lebih banyak mengalah dan akhirnya di “bohongin dan ditipu”. Sudahlah. Masih ada lahan rezeki lain yang belum digali. Amien.

6 comments

  1. mba, boleh minta alamatnya orang tersebut ?
    bukannya sy mau jual, tapi mau beli untuk dijual kembali, please…….. ditunggu ya mba

    1. Well, pak Agus, saya gak recommend ini orang. Kalo mo jual / reseller lebih baik beli di Tanah Abang dan Mangga Dua atau browse di online wholesale seperti di Jogja, Pekalongan, Bali. Bagus2 barangnya..Happy hunting !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s