Archive for Desember, 2008

Minim Pendidikan VS Konsumerisme

Seminggu yang lalu asisten (baca: pembantu) di rumah ibu saya minta ijin untuk kas bon ke saya__jumlahnya gak tanggung-tanggung__nyaris 2X gaji bulanannya. Asisten ini sudah biasa kasbon. Selama ini hampir selalu kami kabulkan permintaannya. Pernah sebagian hutang-hutangnya pada kami, kami putihkan alias dihapus mengingat jasa-jasanya. Tapi sekarang, dengan nilai kas bon sebanyak itu, saya jadi prihatin, apa iya si bibik rela dalam hatinya gajinya dipotong terus tiap bulan? Saya sih percaya rejeki ada aja tapi dengan kondisi keuangan kami yang sangat ketat (apalagi orang tua cuma pensiunan dengan uang pensiunan kurang dari 1.6 juta perbulan) terus terang permintaan sang asisten tak bisa kami sanggupi.

Rupanya alasan si bibik mengajukan kasbon adalah untuk membayar cicilan motornya.Nah, dari situ mulailah saya mengomel.Iya, mengomel, karena saya sudah peringatkan si bibik ketika dia berniat mengajukan kredit motor..apa dia sanggup bayar? apa tidak nanti gali lubang tutup lubang? Motor dipakai buat apa? buat ojek atau cuma gaya-gayaan aja?
Dengan memelas, si bibik minta ijin untuk mencari hutangan agar motornya tidak disita ( entah pinjam siapa, saya gak ambil pusing..) yang berarti dia ijin gak masuk kerja.
Tapi ternyata si bibik absent kerja 3 hari. Itu berarti, beban pekerjaan rumah tangga dibagi kedua ke saya.(saya masih ada satu asisten lagi untuk membantu menjaga anak-anak saya). Dan itu juga berarti saya tidak bisa meninggalkan anak-anak saya sendiri di rumah yang sama dengan semua meeting di Jakarta dipostpone sampai ada pemberitahuan lebih lanjut.

Akhirnya hari minggu, si Bibik masuk kerja. Dia mengadu kalau si bibik ada masalah keluarga (makanya dia absen beberapa hari..)terkait cicilan motornya yang tersendat.
Rupanya, si bibik sudah menyisihkan uang sebesar jumlah cicilan motor ( sekitar Rp 500 ribu) . Si bibik menitipkan ke anak laki-laki sulungnya yang baru berusia 14 tahun untuk dibayarkan. Ternyata uang yang diamanahkan dipakai oleh anak laki-laki si bibik untuk……..membeli handphone baru senilai Rp 400 ribu..sementara sisanya dipakai jajan dan menraktir adik-adiknya..
Uang yang seharusnya dipakai untuk membayar cicilan pun tak bersisa. Cicilan jatuh tempo,surat teguran pun datang, si bibik bingung.Lebih konyol lagi, handphone yang belum 2 minggu dipakai, digadaikan pula ke temannya seharga Rp 80 ribu..

Saya membatin. Inikah dampak dari masyarakat yang minim pendidikan tapi terbuai oleh bujuk rayu nan manis dari dunia konsumtif, konsumerisme?
Individu yang mementingkan kesenangannya semata ( anak si bibik beli handphone baru) karena saking bodoh dan naifnya tanpa memikirkan kepentingan utama keluarganya (cicilan motor).
Tidak berpikir untuk menabung tapi mengkonsumsi barang-barang yang kasat mata dan tampak keren tanpa memikirkan fungsinya? ( anak si bibik ini tak lancar membaca..).

Akhir cerita, motor keluarga si bibik toh digadaikan juga ke kerabatnya.
“Saya gak peduli lagi,bu.Biar saja motor disita.Biar anak saya juga dapat pelajaran dari kejadian ini.” ujar si bibik.Mudah-mudahan…

4 comments Desember 7, 2008

Gak Pakai Mikir = Gak Tambah Pintar

Salah satu iklan provider GSM di media cetak dan TV dengan simpanse sebagai model iklannya.

Ceritanya simpanse dan teman-temannya pusing kok promosi jaringan selularnya banyak syaratnya. Ada yang tarifnya murah tapi hanya jam tertentu, ada yang murah tapi cuma antar operator GSM yang sama, ada pula yang banting harga tapi koneksinya buruk, putus-putus dan banyak blank spot..semua simpanse tampak pusing,mumet kaya banyak pikiran aja.

Terus, tiba-tiba seekor simpanse dengan ceria dan gembira mengumumkan jaringan GSM yang muraaaaaah..gak usah pikir lama-lama, pakai saja GSM yang luar biasa ini..

Coba lihat dan dengar ini,” gak pake mikiiiiiiiiir,” oleh seekor simpanse yang ekspresinya tampak mengejek rekan-rekannya yang kebingungan dan mumet ‘kebanyakan mikir’ itu.

Pelecehan. Bukan karena bintang iklannya Simpanse (yang konon kecerdasannya lebih tinggi daripada jenis primata lainnya). Tapi cara penyampaian pesan seolah-olah untuk memilih provider GSM saja manusia tak perlu berpikir tinggal pilih.

Untuk konsumen yang gampang termakan iklan, pesannya tepat sasaran. Untuk yang sudah ‘terjebak iklan’ silahkan menggerutu. Untuk manusia yang senang belajar pasti ngomel, ” Mikir kok tidak dianjurkan?!”

Konsumen berhak berpikir untuk menentukan provider GSM. Konsumen berhak pilih-pilih kalau perlu pindah ke lain provider bila dirasa provider selularnya tidak sehati dan kompak lagi apalagi sampai merongrong.
Konsumen berhak bertanya-tanya : tarif selular sih makin murah, tapi kualitasnya makin menurun ya? Alih-alih murah, urusan pekerjaan dan bisnis jadi terhambat.

Dengan kata lain. Think ! Pikir ! Karena dalam konten yang lebih luas tagline Gak Pakai Mikir atau Gak Usah Mikir = Gak Tambah Pintar. Mau ?

Add comment Desember 7, 2008


 

Desember 2008
S S R K J S M
« Nov   Agu »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Categories

Link

Reference

Top Posts

Tulisan Terakhir

Komentar Terakhir

ning purwiji di Jajan Sehat Untuk Anak
Martalia ratiardi di “ INI CUMA KONFIRMASI AJA KOK,…
Martalia di Vintage Fashion vs Baju L…
Damar Sasanti di Jajan Sehat Untuk Anak
Irma firdausy di Jajan Sehat Untuk Anak

Arsip

Blog Stats

Meta