Minim Pendidikan VS Konsumerisme
Desember 7, 2008 at 6:56 pm 4 komentar
Seminggu yang lalu asisten (baca: pembantu) di rumah ibu saya minta ijin untuk kas bon ke saya__jumlahnya gak tanggung-tanggung__nyaris 2X gaji bulanannya. Asisten ini sudah biasa kasbon. Selama ini hampir selalu kami kabulkan permintaannya. Pernah sebagian hutang-hutangnya pada kami, kami putihkan alias dihapus mengingat jasa-jasanya. Tapi sekarang, dengan nilai kas bon sebanyak itu, saya jadi prihatin, apa iya si bibik rela dalam hatinya gajinya dipotong terus tiap bulan? Saya sih percaya rejeki ada aja tapi dengan kondisi keuangan kami yang sangat ketat (apalagi orang tua cuma pensiunan dengan uang pensiunan kurang dari 1.6 juta perbulan) terus terang permintaan sang asisten tak bisa kami sanggupi.
Rupanya alasan si bibik mengajukan kasbon adalah untuk membayar cicilan motornya.Nah, dari situ mulailah saya mengomel.Iya, mengomel, karena saya sudah peringatkan si bibik ketika dia berniat mengajukan kredit motor..apa dia sanggup bayar? apa tidak nanti gali lubang tutup lubang? Motor dipakai buat apa? buat ojek atau cuma gaya-gayaan aja?
Dengan memelas, si bibik minta ijin untuk mencari hutangan agar motornya tidak disita ( entah pinjam siapa, saya gak ambil pusing..) yang berarti dia ijin gak masuk kerja.
Tapi ternyata si bibik absent kerja 3 hari. Itu berarti, beban pekerjaan rumah tangga dibagi kedua ke saya.(saya masih ada satu asisten lagi untuk membantu menjaga anak-anak saya). Dan itu juga berarti saya tidak bisa meninggalkan anak-anak saya sendiri di rumah yang sama dengan semua meeting di Jakarta dipostpone sampai ada pemberitahuan lebih lanjut.
Akhirnya hari minggu, si Bibik masuk kerja. Dia mengadu kalau si bibik ada masalah keluarga (makanya dia absen beberapa hari..)terkait cicilan motornya yang tersendat.
Rupanya, si bibik sudah menyisihkan uang sebesar jumlah cicilan motor ( sekitar Rp 500 ribu) . Si bibik menitipkan ke anak laki-laki sulungnya yang baru berusia 14 tahun untuk dibayarkan. Ternyata uang yang diamanahkan dipakai oleh anak laki-laki si bibik untuk……..membeli handphone baru senilai Rp 400 ribu..sementara sisanya dipakai jajan dan menraktir adik-adiknya..
Uang yang seharusnya dipakai untuk membayar cicilan pun tak bersisa. Cicilan jatuh tempo,surat teguran pun datang, si bibik bingung.Lebih konyol lagi, handphone yang belum 2 minggu dipakai, digadaikan pula ke temannya seharga Rp 80 ribu..
Saya membatin. Inikah dampak dari masyarakat yang minim pendidikan tapi terbuai oleh bujuk rayu nan manis dari dunia konsumtif, konsumerisme?
Individu yang mementingkan kesenangannya semata ( anak si bibik beli handphone baru) karena saking bodoh dan naifnya tanpa memikirkan kepentingan utama keluarganya (cicilan motor).
Tidak berpikir untuk menabung tapi mengkonsumsi barang-barang yang kasat mata dan tampak keren tanpa memikirkan fungsinya? ( anak si bibik ini tak lancar membaca..).
Akhir cerita, motor keluarga si bibik toh digadaikan juga ke kerabatnya.
“Saya gak peduli lagi,bu.Biar saja motor disita.Biar anak saya juga dapat pelajaran dari kejadian ini.” ujar si bibik.Mudah-mudahan…
Entry filed under: Keluarga. Tags: asisten rumah tangga, Bodoh, Cicilan motor, Handphone, Jajan, Konsumerisme, Naif, Pendidikan.
4 Komentar Add your own
Tinggalkan Balasan
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed

1.
masedlolur | Desember 8, 2008 pada 7:43 am
jangan meng-klaim penyebab utamanya minim pendidikan mbak Damar Sasanti
di kota-kota besar tugas debt collector tuh buat ngadepin siapa?
apa yang punya utang sekaliber asisten Anda?
yang salah bukan minimumnya pendidikan
tetapi
kurangnya kesejahteraan
loh, saya keliru ya?
2.
Damar Sasanti | Desember 8, 2008 pada 2:27 pm
Debt collector buat ngadepin debitur yang gagal bayar..
terlibat hutang karena bisnis seret, diPHK, biaya berobat dll diluar kendali kita. Tapi kalau hutang karena gaya hidup besar pasak daripada tiang alias konsumtif itu mah konyol.
Yang saya tekankan dari pengalaman saya itu kenapa anak si bibik sudah dikasih amanah kok bisa2nya beli handphone baru dengan alasan handphone lamanya dah ketinggalan jaman (padahal masih berfungsi baik) sementara kewajiban bayar cicilan ditangguhkan.Akhirnya, bikin repot dan heboh seluruh keluarga si bibik.Kasian si bibik kan?
3.
namakuananda | Desember 8, 2008 pada 11:57 pm
menurutku apa yg dikatakan ibu sudah menjadi ” tontonan” realtyshow dikalangan kita dan judulnya cukup berimbang. dan akhirnya Happy ending kan?
nitip dikit bu: Suatu pilihan harus ditempuh dan harus berani menanggung segala akibat yang diperbuat. Kesejahteraan bukan ukuran segalanya untuk berbuat bijak secara cerdas dan elegan.
4.
Damar Sasanti | Desember 10, 2008 pada 4:27 pm
Salam kenal mas Nanda. Tentu Happy Ending lah yang diharapkan walau se”berdarah” bagaimanapun
jalinan cerita.
Saya sangat setuju dengn quote anda “Kesejahteraan bukan ukuran segalanya untuk berbuat bijak…”
Pengalaman yang terbaik dari hidup adalah kesempatan (memanfaatkan kesempatan) untuk terus belajar tanpa henti sampai tiba waktu kita menghadap sang Illahi.