Posts filed under 'Opini Orang Awam'

Gak Pakai Mikir = Gak Tambah Pintar

Salah satu iklan provider GSM di media cetak dan TV dengan simpanse sebagai model iklannya.

Ceritanya simpanse dan teman-temannya pusing kok promosi jaringan selularnya banyak syaratnya. Ada yang tarifnya murah tapi hanya jam tertentu, ada yang murah tapi cuma antar operator GSM yang sama, ada pula yang banting harga tapi koneksinya buruk, putus-putus dan banyak blank spot..semua simpanse tampak pusing,mumet kaya banyak pikiran aja.

Terus, tiba-tiba seekor simpanse dengan ceria dan gembira mengumumkan jaringan GSM yang muraaaaaah..gak usah pikir lama-lama, pakai saja GSM yang luar biasa ini..

Coba lihat dan dengar ini,” gak pake mikiiiiiiiiir,” oleh seekor simpanse yang ekspresinya tampak mengejek rekan-rekannya yang kebingungan dan mumet ‘kebanyakan mikir’ itu.

Pelecehan. Bukan karena bintang iklannya Simpanse (yang konon kecerdasannya lebih tinggi daripada jenis primata lainnya). Tapi cara penyampaian pesan seolah-olah untuk memilih provider GSM saja manusia tak perlu berpikir tinggal pilih.

Untuk konsumen yang gampang termakan iklan, pesannya tepat sasaran. Untuk yang sudah ‘terjebak iklan’ silahkan menggerutu. Untuk manusia yang senang belajar pasti ngomel, ” Mikir kok tidak dianjurkan?!”

Konsumen berhak berpikir untuk menentukan provider GSM. Konsumen berhak pilih-pilih kalau perlu pindah ke lain provider bila dirasa provider selularnya tidak sehati dan kompak lagi apalagi sampai merongrong.
Konsumen berhak bertanya-tanya : tarif selular sih makin murah, tapi kualitasnya makin menurun ya? Alih-alih murah, urusan pekerjaan dan bisnis jadi terhambat.

Dengan kata lain. Think ! Pikir ! Karena dalam konten yang lebih luas tagline Gak Pakai Mikir atau Gak Usah Mikir = Gak Tambah Pintar. Mau ?

Add comment Desember 7, 2008

Pakaian (bekas) layak pakai atau sisa export ?

Di suatu iklan baris di harian Kompas : “Punya Pakaian Tidak DiPakai/Bekas (Layak Pakai) Daripada Disimpan.Hubungi : XXX ( 021-835XXXX – 08131904XXXX ).

Tertarik dengan iklan tersebut dan kebetulan saya punya baju-baju layak pakai yang masih bagus,maka saya menghubungi no telpon yang bersangkutan dan diterima oleh seorang wanita. Saya katakan saya tertarik dengan penawaran tersebut dan bertanya pakaian jenis apa saja yang bisa diterima wanita tersebut. Ia menerangkan bahwa ia menerima sejumlah pakaian bekas layak atau nganggur di lemari seperti daster, baju bayi, anak-anak, kaos, kemeja, celana panjang,sprei, korden. Ketika saya jelaskan posisi saya , ia keberatan karena jarak yang jauh. Ia sendiri di Bukit Duri sementara saya nun jauh di pegunungan kawasan Gadog, Mega Mendung,Bogor.Ketika saya tawarkan beberapa kebaya, setelan jas dan safari dan baju muslim, ia menolak. That’s okay. Saya katakan saya akan mampir ke tempatnya bila sewaktu-waktu saya ada urusan di Jakarta.

Sekitar 2 minggu kemudian, ketika ikut menemani suami ke calon kliennya di kawasan Tebet-Casablanca, saya siapkan pakaian-pakaian bekas layak pakai (well, this could be real garage sale!) bahkan baju-baju sisa dagangan di bazaar dulu. Ketika konfirmasi untuk ketemu ibu XXX di rumahnya, dia malah bersedia menerima setelan baju muslim dan menolak baju anak-anak ( nah, kebalik kan dengan ucapannya beberapa minggu lalu) tapi saya keburu meluncur turun dan tidak bisa kembali ke rumah, membongkar lemari.

Setelah urusan suami selesai, kami pun mulai mencari alamatnya. Ibu itu mungkin bukan penunjuk jalan yang baik__saya lebih berpatokan pada peta Jakarta Gunther W.Holtorf__jadinya kami mencari berdasarkan peta dan tebak-tebakan.

Akhirnya kami menemukan lokasinya. Kawasan padat, agak kumuh, gak jauh dari rel kereta api Manggarai. Setelah sedikit berbasa-basi, ibu XXX memanggil seorang pria__suaminya__bapak XXX. Tipikal pedagang di pasar-pasar dan tanpa basa-basi, langsung membongkar bawaan saya, meneliti kondisi pakaian dengan cepat layaknya profesional. “Cuma segini aja, bu?” tanya bapak XXX. “Ya. Lagi pula tidak semua ini barang bekas, sebagian besar malah sisa bazaar jadi baju masih baru sama sekali,” jawab saya.

“Kita gak terima baju baru, kita terima borongan aja. Ibu minta berapa,?”

“Rp 150,00″

“Rp 60,000. Kasian bu, orang yang mau ambil barang saya, jauh-jauh datang dari Lampung.”

“Tapi ini baru,”

“Nih, lihat bu, kita terima berkarung-karung. Lihat, karung ini isinya baju baru semua yang sudah tidak laku lagi di toko. Sisa export dari pabrik. Kalau saya jual sepotong Rp 5,000 aja, orang udah protes.,”

Dan sederet komentar lain yang menunjukkan betapa orang yang mengedrop barang-barang cuci gudang itu memiliki barang yang jauh lebih bagus dan baru ( la iya lah, sisa export gak lolos Quality Control gitu..)

” Rp 100,000,” saya turun harga. Si bapak XXX yang tidak simpatik tak bergeming.

“Rp 75,000 deh, ambil.Jauh-jauh dari Bogor saya antar,” saya mulai protes.

“Ah, kami juga kemarin ambil sendiri di Taman Jasmin, sombong bapak XXX. ” Kalo gitu, kenapa gak diambil aja kerumah,” saya menatap ibu XXX, ” ibu sendiri bilang kan kalau ibu kesulitan kendaraan untuk pick up barang, “

Cepat-cepat, bapak XXX mengangsurkan Rp 60,000 dan close the deal. Kurang ajar..

Intinya bapak XXX menurut saya sok dan menyebalkan.

Tiba-tiba sang istri, ibu XXX menyela, ” Bu, mana baju muslimnya?” “Gak dibawa, ntar saya kesini lagi,” jawab saya.Saya menangkap isyarat ibu XXX sangat menginginkan setelan baju muslim apalagi ini mau Lebaran.

“Dijual berapa, bu?” tanyanya lagi.

“Yang jelas, bukan borongan. Ini setelan baju muslim yang kami rancang dan kami jahit sendiri bukan beli di mall.Setelannya 3 pces. Saya jual Rp 100,000 karena rata-rata baru dipakai sekali. ( Jual baju muslim ke pengepul kaya gini ? Nggaaak…banget !!!)

“Kita gak ambil, bu” jawab bapak XXX cepat-cepat ( baguslah..)

Saya pergi dengan hati agak dongkol. Saya merasa tertipu.Kalau niatnya cari pakaian sisa export, bilang saja di awal iklan. Pake embel-embel baju bekas layak pakai. Lebih baik baju saya sumbangkan ke orang yang membutuhkan bukan orang yang mencoba mengambil keuntungan.

Di perjalanan pulang, suami menghibur,” sudahlah, Sa, kamu memang gak bakat jadi pedagang.Orang-orang tipe bapak XXX itu pedagang asli yang mengutamakan kecepatan waktu dan keuntungan banyak dengan modal sesedikit mungkin,”

“Penampilan dan gayamu itu bukan penampilan pedagang yang pandai merayu, membujuk, merengek bahkan bisa memasang tampang memelas,” tambah suami saya lagi.

Pantas saja kalo untuk urusan dagang saya memang lebih banyak mengalah dan akhirnya di “bohongin dan ditipu”. Sudahlah. Masih ada lahan rezeki lain yang belum digali. Amien.

Add comment September 13, 2008

Ibu rumah tangga kembali bekerja : mungkinkah ?

Saya sempat berpikir adakah yang salah di resume saya atau karena status saya yang jadi penghalang? Hati ini kecut ketika mendengar keluh kesah seorang teman. Dia seorang ibu bekerja. Punya karir cukup baik. Tapi mengeluh katanya semua lamaran yang ia masukkan tidak ada yang tembus. “Apa karena gue udah berkeluarga ya Sa , ?” begitu ceritanya. “Saingan gue perempuan lajang,”tambahnya. Lucu teman saya ini, dulu waktu belum ketemu jodohnya, ia mengeluh, sekarang sudah dikarunia suami dan anak yang manis dan sehat , gantian mengeluh soal karir. ” Gue sebenarnya lebih senang di rumah, ngurus anak. Tapi gimana, kalo gue gak kerja ,keuangan keluarga jadi minus”

Continue Reading 5 comments September 1, 2008

“ INI CUMA KONFIRMASI AJA KOK,BU.NANTI POLIS KAMI KIRIM KE ALAMAT IBU.”

Kalau anda salah satu pemegang kartu kredit, mungkin anda pernah ditelpon petugas telemarketing seperti ini :
“Halo, dengan ibu Fulan ? Saya X dari bank Y (penerbit kartu kredit anda). Kami hendak menawarkan credit shield yaitu asuransi yang preminya dipotong tiap bulan dari pemakaian kartu. Hanya Rp 20 ribu sebulan. Ibu berminat ? “ ( plus promosi keunggulan produk tersebut dari A sampai A lagi)
Anda menjawab : “Tidak terimakasih “( lain cerita kalau anda tertarik )…

Continue Reading 2 comments Agustus 31, 2008


 

Desember 2009
S S R K J S M
« Agu    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Categories

Link

Reference

Top Posts

Tulisan Terakhir

Komentar Terakhir

ning purwiji di Jajan Sehat Untuk Anak
Martalia ratiardi di “ INI CUMA KONFIRMASI AJA KOK,…
Martalia di Vintage Fashion vs Baju L…
Damar Sasanti di Jajan Sehat Untuk Anak
Irma firdausy di Jajan Sehat Untuk Anak

Arsip

Blog Stats

Meta